Dokumentasi resmi kegiatan Integrasikan Pertanian dan Peternakan Berbasis Ekonomi Sirkular di Universitas Diponegoro

Integrasikan Pertanian dan Peternakan Berbasis Ekonomi Sirkular

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (2/10) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 15 merancang dan merealisasikan pengembangan...

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (2/10) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 15 merancang dan merealisasikan pengembangan klaster pertanian dan peternakan terpadu di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Program kolaborasi antara UNDIP dan Kementerian Transmigrasi ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal, meningkatkan produktivitas ternak, serta menciptakan sistem produksi kawasan yang mandiri dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, Tim 15 berfokus pada perancangan klaster pertanian dan peternakan terpadu, bersinergi dengan Tim 3 yang berfokus pada pengembangan kelembagaan kelompok ternak. Kolaborasi ini memastikan pembangunan infrastruktur produksi berjalan selaras dengan peningkatan kapasitas masyarakat.

Klaster ini mengusung pendekatan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor peternakan sapi dan pertanian. Limbah ternak diolah menjadi kompos dan pupuk organik untuk menyuburkan lahan pertanian, sedangkan hasil tanaman serta hijauan rumput dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus menekan ketergantungan pada pasokan luar.

Sorotan Utama dan Perkembangan Kegiatan

Kawasan klaster yang dirancang Tim 15 mencakup ladang rumput potong, padang umbaran (pasture), fasilitas pengolahan limbah, gudang pakan, hingga kandang khusus penanganan sapi sakit dan indukan bunting.

Selain aspek produksi, Tim 15 menaruh perhatian pada pembenahan kualitas genetik dan pengelolaan reproduksi ternak. Langkah ini dilakukan untuk menekan risikoinbreeding(perkawinan sedarah) yang selama ini menurunkan kualitas populasi sapi warga. Melalui penguatan kelembagaan dan pengelolaan reproduksi yang lebih terarah, masyarakat diharapkan mampu mengurangi praktikinbreeding, menjaga keragaman genetik, serta meningkatkan kualitas populasi sapi.

Pendekatan partisipatif diterapkan sejak awal perencanaan melalui pemetaan bersama warga hingga dibentuk kelompok perintis beranggotakan enam orang sebagai penggerak awal kegiatan. Pendekatan tersebut memadukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat dalam bertani dan beternak. Ketua Kelompok Perintis, Hari, menegaskan bahwa kelompok yang dibentuk warga ini lahir dari komitmen bersama untuk membangun kemandirian lokal. “Kelompok perintis ini merupakan perwujudan tekad masyarakat transmigrasi dalam mengembangkan sub sektor peternakan menjadi mandiri dan berinovasi tanpa mengharapkan bantuan,” ungkapnya.

Dampak Strategis dan Kolaborasi Berkelanjutan

Sebagai dasar penataan kawasan, TEP UNDIP melakukan pemetaan dan pengukuran lahan demplot memanfaatkan pemetaandroneuntuk mengukur kontur serta luasan area secara komprehensif. Tahap awal pengembangan klaster mulai direalisasikan pada Rabu (2/9) melalui gotong royong pembersihan lahan dan pembuatan bedengan sebagai persiapan penanaman rumput pakan unggul.

Melalui sinergi TEP UNDIP Tim 15 dan Tim 3. pengembangan klaster ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya kelembagaan peternak, peningkatan mutu ternak, serta terwujudnya sistem pertanian – peternakan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi Senggi.

Program ini sekaligus mendukung pencapaianSustainable Development Goals(SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan ekonomi sirkular, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat kolaborasi strategis antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat setempat. (Komunikasi Publik/UNDIP)